It called ‘fate’
It’s all ‘bout fate…
Lima tahun setengah bukan waktu yang pendek untuk menghabiskan waktu dengan seseorang. Mulai mengenalnya, mempelajari sifat – sifatnya, bertengkar, berbagi, berbicara tentang banyak hal. Mimpi, keluarga, harapan, masa depan, masa lalu, semuanya. Tapi selalu ada akhir yang menghalangi aku dan dia untuk tetap bersama… dan aku menyebutnya takdir.
Ketika Tuhan telah memutuskan hari inilah -2 Januari 2010, jam 5.02 pagi- kami berpisah, sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuknya… selain merelakannya pergi, kesedihan dan kebahagiaan kami mungkin berakhir disini… hari ini…. Aku tidak tahu apakah Tuhan akan sekali lagi mempertemukan kami dan menyambungkan takdir kami lagi di kemudian hari. Aku tidak tahu….sekarang setelah dia pergi yang terasa adalah kesedihan yang luar biasa dan isak tangisku yang tak kunjug berhenti sampai detik ini. Bahkan sampai kemarin perasaan kehilangan seperti ini belum terbersit dalam pikiranku. Ternyata dia telah menempati salah satu sudut ruang hatiku, tanpa kusadari.
Pertemuan kami di Jogja ini juga bukan kebetulan, seandainya saja kami berdua tidak pernah berusaha untuk masuk UGM mungkin aku tidak akan pernah mengenalnya. Seandainya saja satu keputusan atau satu takdir berbeda dari sekarang, mungkin aku juga tidak akan pernah bertemu dengannya. Seseorang yang sangat berarti bagiku, mengajariku banyak hal walau terkadang manja, seseorang yang hampir setiap pagi menjadi orang yang pertama kulihat dan kutemui ketika kubuka mataku selama lima setengah tahun terakhir, seseorang yang menangis bersamaku saat menonton film, seseorang yang selalu memberiku kekuatan dimana pun dan kapan pun ketika aku butuhkan. Seseorang yang mungkin tak akan tergantikan oleh orang lain dalam salah satu fase hidupku. Tempat aku menumpahkan segala keluh kesahku. Seseorang yang selalu mengingatkanku pada Tuhan dengan cara yang tak terduga…. Tuhan, tolong dia di tempatnya yang baru, berilah cahaya kebahagiaan di tiap gelap jalan yang akan dilaluinya kelak. Berilah dia yang terbaik karena dia berhak mendapatkannya… Tuhan, jagalah dia sebagaimana Engkau menjaga kami pada saat kami masih bersama dulu. Lapangkanlah rezekinya, bahagiakanlah dia karena hanya senyum yang pantas berada di wajahnya. Tuhan, Tuhan, jagalah dia… hanya sedikit doa kecil ini yang bisa kupersembahkan untuknya, seorang kakak yang terkadang seperti seorang adik bagiku, namun di saat yang sama dapat menjadi sahabat terbaik bagiku, tanpa kusadari…
Sekarang saat dia pergi, saat kami harus terpisah, perasaan kacau karena kehilangannya baru terasa menyakitkan, menyesakkan… tapi aku tahu, aku tidak boleh egois karena dia punya takdirnya sendiri, punya mimpi untuk terus berjuang dan menjalani hidupnya. Tuhan, bantu dia, aku tahu seberapa banyak dia berusaha dan berdoa. Balaslah sesuai usaha dan doanya. Satu hal yang pasti, saat tiba – tiba dia harus kembali, aku berharap aku masih dapat menjadi teman dan sahabat terbaik kala dia butuhkan… semoga saja tidak ada yang berubah kelak, entahlah… semoga Tuhan masih memperkenankan takdir kami untuk terus bersambungan di masa depan… Amin
PS : aku benci perpisahan, karena rasanya selalu sama, pahit dan getir…
~Yogyakarta, 2 Januari 2010, 5.45am~
