Yang Terlupakan

Tiba – tiba saja ingin menulis…

Nggak tau gimana awalnya, tiba – tiba aja kemarin waktu sekali lgi pulang kampung, aku menemukan banyak sekali hal – hal yang dulu banget merupakan kebiasaanku dan sekarang cuma jadi kenangan.
Kalau coba -diingat – ingat, mungkin karena ini adalah bulan Agustus… Agustus selalu penuh dengan warna merah dan putih… sekaligus berbagai macam even dari yang kecil sampai yang besar. Dari lomba masukin pensil ke botol sampai pawai mobil hias yang selalu dilakukan di kotaku pada bulan Agustus.
Ketika kemain aku sedang fotokopi, tepat di depan tempat fotokopi tempat kumenunggu kudengar suara peluit yang sangat berisik sekali. Ada apa sih sebenarnya? Kumelongok keluar dan kutemukan adik – adik SD yang sedang latihan baris – berbaris. 15 tahun yang lalu akulah yang ada di tempat mereka. Tepatnya ketika aku kelas 6 SD. Kami yang harusnya sibuk menerima pelajaran agar bisa menuju SMP favorit harus berlatih mati – matian dari pukul tujuh pagi sampai pukul 10 pagi. Mengelilingi kota kecil kami dan berusaha keras mempertahankan gelar juara kami dari warisan dari tahun – tahun sebelumnya. Sungguh melelahkan… dan kalau dipikir sekarang sebenarnya untuk apa sih kita lomba baris – berbaris? sekarang dengan bangga aku bisa mengatakan untuk menggembleng kedisiplinan kami. Dulu yang terpikir hanyalah “bisa bolos pelajaran”… dan “asal bisa ngumpul sama teman saja”. kalau diingat – ingat, aku malah memulai jadi anggota tetap baris – berbaris SD ku dari kelas 5 SD.

Lainnya lagi adalah pawai mobil hias yang selalu kunanti – nanti, bahkan rela berpanas – panasan agar bisa melihat bentuk – bentuk unik yang ditampilkan oleh masing – masing departemen atau dinas di kotaku. Kalau sekarang yang ada malah aku bertanya pada diriku sendiri :ngapain panas -panasan demi nonton pawai?” Ampun deh

Sekarang makna dari tujuh belas Agustus sendiri telah luntur dari jiwaku. Entah pergi kemana… Bukannya aku suka dengan semua prosesi upacara yang monoton itu (dulu bahkan tiap hari Senin), tapi rasanya sekarang benar – benar kehilangan karena sudah tidak berhubungan dengan upacara bendera sejak masuk kuliah. Terkadang ketika sang Saka Merah Putih dikibarkan di Istana negara sana, aku hanya bisa meratap sedih karena hanya bisa menonton dari televisi. Jujur, benar – benar ingin kembali ke saat harus menjadi khoir lagu Indonesia Raya atau sekedar berlari – lari karena takut terlambat upacara bendera, bahkan hampir pingsan karena teriknya sang mentari. Oh, kemanakah semua masa itu pergi ya?

Pertanyaan terakhir untuk diriku sendiri adalah, “bagaimana caranya bisa mengembalikan semua jiwa dan smenagat yang telah hilang itu? bagaimana? bagaimana?”

~ oleh zephyrnautica pada Agustus 3, 2009.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.