Yogyakarta, 4 Agustus 2010
Tadi sore dan malam ini ketika papa menelpon, aku merasa sangat-sangat bahagia. Agak aneh mungkin ketika kalian mendengar sedikit ceritaku… Tulisan ini akan mengawali bab hidupku mengenai TAKE n GIVE.
Beberapa hari yang lalu aku sempat uring-uringan ketika mengingat aku membelikan kado ulang tahun yang sangat mahal (menurutku) untuk seorang teman. Bilangan 50rb rupiah merupakan angka yang fantastis untuk seorang diriku ketika memberi kado ulang tahun untuk seorang teman, mengingat aku bahkan belum pernah memberikan kado dengan harga seperti itu untuk sahabatku atau bahkan kakak dan orangtuaku. Bagiku yang namanya kado ulang tahun itu cukup yang murah saja namun memiliki arti yang besar karena disertai doa dan ketulusan. Hitunganku ini akan sedikit berkebalikan dengan hitunganku tentang harga kado pernikahan seorang teman. Bagiku kado untuk pernikahan boleh lah mahal, apalagi kado yang dibeli bersama teman-teman untuk seorang teman. Entah sejak kapan hitunganku jadi seperti ini.
Rasa peyesalan itu terus menerus ada sampai akhirnya aku selalu membanding-bandingkan diriku dengan orang lain dalam masalah diberi kado atau ditraktir. Betapa menyenangkannya melihat orang-orang selalu, selalu, dan selalu saja mudah sekali mendapatkan kado, seikat bunga, atau traktiran teman yang datang dari segala penjuru. Seingatku, ketika aku wisuda pun tidak ada seorang pun yang memberiku bunga, apalagi kado. Sependek ingatanku pula kado yang selalu datang hanya berasal dari kedua orang tuaku dan kakakku. Dan ternyata memang ingatan manusia itu begitu pendeknya karena aku lupa bahwa banyak sekali kado dan nikmat yang kuperoleh dalam hidupku. Mungkin bentuknya sedikit berbeda dengan seikat bunga, kado, atau traktiran. Bentuknya adalah kesehatan, dan kenyamananku dalam segala hal yang difasilitasi oleh kedua orang tuaku dan Sang Maha Pencipta. Lalu apa yang kuirikan? Ternyata nggak ada! Kenapa tidak ada? Karena Sang Pencipta akan selalu memberlakukan hukum take n give di dunia manapun kita berada. Nggak ada yang gratis, Bung! Ingat saja ketika datang sebuah kesedihan, tentu Sang Khalik akan segera menggantikannya dengan berita bahagia. Ketika kita rajin memberi, sebanyak itulah yang akan kita terima. Iya kan?
Lalu kita akan memulai kembali cerita ini ke bagian awal tulisan…. Apa sih yang sudah kuberikan kepada kedua orang tuaku selama ini? Jawabannya : BELUM ADA!!! Benar-benar menyedihkan ternyata! Aku punya banyaaaaaaakkk sekali impian untuk bisa memberikan segala yang terbaik untuk kedua orang tuaku, namun ternyata dengan kenyamanan finansial (dari kerja parttime), ternyata aku hanya bisa menggunakannya untuk membayar kos dan biaya kuliahku. Aku sendiri heran mengapa hanya untuk memberikan seikat mawar putih di hari Ibu saja aku belum pernah, atau memberikan sesuatu sebagai kado ulang tahun ayahku? Coba kuingat-ingat dulu… sepertinya juga tidak ada. Mengingat betapa keras kerja yang dilakukan orang tuaku untukku dan kakakku sampai kami mencapai batas nyaman kehidupan sebagai seorang mahasiswa. Lalu apa yang bisa kuberi? Materi? Sepertinya Beliau berdua tidak butuh itu! Yang ada Beliau berdualah yang malah membantuku di berbagai usaha dagang yang kulakukan. Mulai dari mengurus kambing sampai menjual kosmetik. Ya Allah, anak macam apa aku ini? Hanya untuk membahagiakan kedua orang tuaku saja aku belum bisa ya Allah. Lalu aku harus bagaimana? Cukupkah hanya dengan do’a-do’a yang kulantunkan? Apakah hanya itu? Apalagi yang kiranya bisa kuberikan untuk Beliau berdua? Ya Allah, tolong bantu aku menemukan jawaban dari pertanyaanku ini….
